Donnerstag, 18. Oktober 2012

Another thought: Di antara jodoh dan cinta

Di usia saya yang hampir 24 tahun, rasanya memang hal yang normal kalau membahas masalah ini. Banyak pertanyaan - pertanyaan yang terlintas di benak saya.

Ya, jodoh saya pun sendiri tidak begitu mengerti tentang ini, meskipun banyak buku buku yang menjabarkan tentang ini saya pun tetap tak begitu paham, namun pasti memang semua nya adalah rahasia Allah. Rahasia yang mungkin saya tidak bisa membayangkan jalan cerita dengan  sang penggenap agama saya. Namun ada hal yang mungkin bisa saya lakukan saat ini, yaitu dengan senantiasa berusaha memperbaiki diri, memperbaiki agama tentunya, dan juga memperbaiki kualitas diri yang lain. Karena saya yakin, memperbaiki diri adalah ikhtiar terbaik yang bisa dilakukan untuk menjemput jodoh. Mungkin setidaknya bagi pemikiran saya. 

Beberapa orang yang lalu lalang di kehidupan saya, memberikan memori indah dan juga kenangan pahit. Itulah kehidupan, dengannya menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Dan itulah yang menjadikan saya sangat tertutup dengan hal  yang bernama cinta ini. Kadang saya berpikir, saya terlalu longgar untuk berteman tetapi ketika ada seseorang yang mencoba mendekati dan mengutarakan perasaannya, saya pun mundur perlahan dan menjauh. Mungkinkah rasa takut dan trauma masih membekas dihati ini? Saya pun tak paham, namun yang pasti saya tak ingin membukakan pintu hati saya untuk siapapun yang mencoba mengetuknya. Karena hati tak kan mudah diperbaiki dan disembuhkan.

Ada kalanya saya merasa bahwa kesendirian itu lebih baik, dari pada harus menghabiskan masa penantian ini dengan mencari cari diantara banyak orang yang hadir. Karena dalam masa kesendirian saya bisa mengevaluasi diri saya, mengeksplorasi diri saya.  Namun ada pula  masa ketika hati saya bergumul dengan fikiran, maka terkadang pikiran saya pun terpaksa mengalah. Dan kadang ada masa ketika saya merasa lelah untuk menjalankan kehidupan saya, ada rasa dimana saya membutuhkan seseorang untuk bertumpu. Seseorang yang bersedia memberikan bahunya. Dan disitulah mungkin saya tersadar bahwa saya bukan setegar yang orang - orang kira. Bagaiamanapun semuanya harus bisa diseimbangkan.





Keine Kommentare:

Kommentar veröffentlichen