Kejadian ini bukan hanya terjadi dikampus, melainkan juga terjadi di tempat yang tidak terduga. Memang mungkin alasan utama nya adalah karena saya sangat sering menggunakan jilbab khas turki, sehingga selintas saya terlihat seperti orang negaranya. Pernah suatu ketika saya berada di stasiun kereta api di Berlin ( Alexanderplatz) , kala itu saya sedang menunggu kereta. Kemudian datang seorang ibu menghampiri saya, kemudian berbicara dengan bahasa yang saya tidak paham. Lalu saya berkata kepada ibu itu, maaf saya tidak mengerti apa yang anda katakan. Kemudian beliau meminta maaf, karena beliau kira saya orang dari negara nya beliau. Dan saya baru tahu kalau beliau adalah orang Turki.
Kejadian berikutnya juga terjadi ketika saya berbelanja di pusat perbelanjaan di Fulda. Seperti biasa saya berbelanja bahan pangan di Kaufland ( seperti indomaret/ carrefournya Indonesia). Berbelanja di Kaufland memang sudah biasa bagi saya, karena Kaufland letaknya sangat dekat dengan rumah saya. Yang tidak biasa adalah, ketika saya selesai berbelanja. Ketika itu saya membawa dua buah kantung belanjaan yang memang lumayan membuat saya kewalahan. Kemudian ada sekeluarga, dari raut wajahnya sepertinya bukan orang Jerman, namun saya tahu kira - kira berasal dari negara mana. Kemudian ada bapak - bapak dari keluarga itu menghampiri saya, dan tiba - tiba berbicara dengan bahasa nya yang sangat bisa dipastikan bahasa Turki. Kemudian saat itu saya menjawab " Entschüldigung, ich bin kein Türken. Ich verstehe nicht, was Sie gerade gesagt haben. " Kemudian beliau sepertinya kaget, dan sedikit malu, karena sudah menyangka bahwa saya pasti mengerti apa yang dia katakan. hehe Kemudian beliau berbicara bahasa Jerman kepada saya saat itu " Oh ich wollte nur sagen, ob Sie Hilfe brauchen. " Dan begitulah kami berbicara sedikit ketika itu saya memang berjalan kaki, kemudian beliau dan sekeluarga bergegas naik ke mobil mereka.
Terusnya ketika di kampus, saya berpapasan dengan seseorang di perpustakaan kampus. Saya yakin melihat wajah nya, sepertinya dia adalah orang Indonesia. Namun karena saya buru - buru saat itu saya hanya menunggu reaksinya. Karena kalau benar orang Indonesia, dia pasti akan menyapa terlebih dahulu. Biasa, karena syndrom terlalu dikit orang Indonesia di kota Fulda. Tapi sepertinya dia malah melengos, saya pikir hmm oke mungkin dia bukan orang Indonesia, atau mungkin dia segan untuk menyapa terlebih dahulu. Pokonya yang itu yang ada di benakku. Kemudian selang seminggu kemudian, kami bertemu lagi di ulang tahun student Indonesia. Kemudian kami saling kaget, saya pun berbicara dengan dia : " Loh, kita pernah ketemu kan ya di Bibliothek ( red: perpustakaan dalam bahasa Jerman)? ", kemudian dia pun berkata : " Iya ya kita pernah ketemu, aku ingin nyapa sih sebenernya, cuma ragu orang Indonesia atau bukan. Aku pikir mba orang Turki waktu itu, makanya saya ngga sapa. " Mendenger penjelasaan nya, saya ngakak juga. Ini ternyata si Widya aja ( nama temen saya ) sampe ngira saya bukan orang Indonesia. ckckckck
Selain itu, hal aneh juga sering terjadi, terutama ketika saya berada di Kebab Haus. Entah apa yah aneh sama diri saya, saya seperti dilihatin aneh sama mereka, paling sering terjadi sewaktu saya di Fulda. Saking seringnya, saya sampai terbiasa. Lain kali saya harus pasang stempel kali ya di jidat. Saya orang Indonesia. hehe
Mba Dyah, jgn pake stempel... Ntar orang jerman malah mengira Mba Dyah pertugas kelurahan....jihehehehee... :) "Peace"
AntwortenLöschenHaha, Mr. TM terima kasih ya kommen nya. petugas kelurahan disini maen nya ngga pake stempel :D
AntwortenLöschen